SYURGA DUNIA
Syurga Dunia
Selamat datang di kebun binatang kekuasaan, di mana pejabat senior dan bos korporasi hidup seperti raja kecil dengan harem terselubung. Mereka pura-pura sibuk kerja, padahal sibuk menyetubuhi hierarki. Dinas luar negeri? Hotel bintang lima? Tiket pesawat kelas bisnis? Semua dibayar negara atau perusahaan. Bonusnya: staf muda yang “manis-manis” — bukan karena kompetensi, tapi karena tubuh mereka jadi alat barter karir.
Yang terlihat di permukaan: rapat, laporan, tanda tangan. Yang tersembunyi: ranjang jabatan. Quid pro quo bukan istilah Latin lagi, tapi menu harian.
Korban? Mereka belajar seni tutup mulut. Bicara berarti karir tamat, mutasi ke pelosok, atau PHK. Diam berarti ada peluang naik jabatan, jadi Kades, Camat, bahkan Bupati. Ya, banyak kursi politik diisi bukan karena prestasi, tapi karena prestasi di ranjang pejabat senior.
Di swasta lebih brutal: perusahaan melindungi citra, bukan korban. Banyak pegawai awet kerja, jenjang karir melesat, bukan karena KPI, tapi karena KPI = Kasur Pejabat Internal. Diam, patuh, ditiduri, lalu naik pangkat. Itulah “meritokrasi” ala korporasi.
Data? Jangan pura-pura kaget. Survei WageIndicator 2025: 1 dari 3 pekerja mengalami pelecehan seksual di tempat kerja. Naik tajam dari 1:26 di 2023. Komnas Perempuan mencatat ribuan kasus tiap tahun. Angka ini bukan sekadar statistik, tapi jeritan yang dibungkam dengan selimut jabatan.
Indonesia punya UU TPKS No.12/2022, Permenaker, segudang aturan. Tapi implementasi? Lemah, nyaris seperti kondom bocor. Banyak perusahaan bahkan belum punya kebijakan pencegahan. Regulasi jadi hiasan dinding, bukan pelindung nyata.
Intinya: ini bukan sekadar kasus individu, tapi struktur busuk: hierarki berlebihan, patriarki mengakar, akuntabilitas nihil. Selama budaya “jangan bikin ribut” masih jadi mantra, pelecehan akan terus jadi olahraga favorit pejabat.
Ironi pahit: di Korea Utara, pelecehan bahkan dilegalisasi terang-terangan lewat “Pleasure Squad.” Tidak ada pura-pura, tidak ada sembunyi-sembunyi. Gadis muda dipilih resmi untuk melayani pejabat. Sementara di sini, kita masih berpura-pura bahwa semua baik-baik saja, TATA KRAMA ETIKA SOPAN SANTUN, sebagai Topeng Harian, sambil menutup mata terhadap coitus rutin pejabat yang katanya demi fokus kerja.
Sarkasme hiperbolik: mungkin kita harus bikin kementerian baru — Kementerian Kenikmatan Jabatan. Syarat masuk: muda, manis, patuh 100%. Agar pejabat bisa kerja fokus, katanya.
Tapi mari berhenti bercanda. Karena di balik vulgaritas ini ada kenyataan getir: jutaan korban, Hamil, Beranak Pinak, trauma nyata, dan sistem yang membiarkan predator berkuasa. Profesionalisme dan etika seharusnya jadi standar, bukan hak istimewa jabatan.
Selama “surga dunia” para pejabat berdiri, neraka dunia akan terus jadi tempat tinggal para korban.
#justINFO
Comments
Post a Comment