Bahagia

 Dari 2006 sampai 2026. Dua puluh tahun. Status: duda. Bukan sekadar tanpa istri—bahkan pacar pun tidak ada. Kosong. Bukan pilihan romantis, tapi kondisi yang berjalan terlalu lama sampai jadi kenyataan yang harus ditelan setiap hari.


Banyak orang bicara soal kebutuhan. Tapi ketika kebutuhan itu tidak punya jalur keluar, ia tidak hilang. Ia menumpuk. Mengendap. Lalu berubah bentuk. Hasrat yang tak tersalur, kedekatan yang tak pernah terjadi, sentuhan yang tak pernah ada—semuanya bertransformasi jadi sesuatu yang lain. 


Emosi. Amarah. Sensitif terhadap hal-hal kecil. Dan sifat-sifat yang dulu tidak ada, sekarang muncul tanpa diundang.

Ini bukan sekadar soal fisik. Ini soal keseimbangan yang tidak pernah tercapai. 


Hari berjalan seperti biasa, kerja tetap dilakukan, aktivitas tetap dijalani. Tapi di dalam, ada ruang kosong yang tidak pernah benar-benar terisi. Dan ruang kosong itu tidak diam—dia berbicara dalam bentuk yang keras.


Grup WhatsApp? Banyak. Terlalu banyak. Isinya orang-orang dengan hidup masing-masing. Tertawa. Bercanda. Cerita keluarga. Cerita pasangan. Hal-hal yang bagi mereka biasa, tapi bagi saya jadi pengingat posisi. Bukan iri. Bukan benci. Tapi sadar diri.

Dan akhirnya saya ambil keputusan sederhana: lock semua chat.


Bukan karena mereka salah. Bukan karena saya tidak suka mereka bahagia. Justru sebaliknya. Mereka berhak berisik dalam kebahagiaan mereka. Mereka berhak tertawa tanpa harus memikirkan saya yang belum sampai di titik itu.



Yang saya lakukan cuma menarik diri. Bukan kabur. Bukan menyerah. Tapi memberi jarak, supaya saya tidak perlu melihat sesuatu yang tidak bisa saya miliki saat ini.


 Supaya saya tidak perlu pura-pura ikut bahagia, padahal dalam hati tidak ada resonansi yang sama.

Saya tidak ingin jadi aktor di kehidupan orang lain.


Untuk sementara, biarkan seperti ini. Sunyi, tapi jujur. Sepi, tapi nyata. Tanpa topeng, tanpa basa-basi.


Saya tahu posisi saya. Dan saya tidak akan memaksakan diri untuk terlihat “baik-baik saja” di tengah sesuatu yang jelas belum saya miliki.


Sampai nanti.

Sampai suatu titik di mana saya benar-benar punya seseorang. Bukan sekadar status, tapi kehadiran yang nyata. Seseorang yang bisa diajak berbagi, bukan cuma dilihat dari jauh. Seseorang yang membuat saya tidak lagi berdiri di luar, tapi benar-benar masuk ke dalam kehidupan itu sendiri.


Di titik itu, mungkin saya akan buka kembali semua chat yang sekarang terkunci. Bukan karena ingin mengejar ketertinggalan, tapi karena akhirnya saya bisa hadir tanpa harus berpura-pura.

Bisa tertawa tanpa tekanan. Bisa ikut tanpa beban. Bisa bicara tanpa merasa asing di tengah keramaian.


Sampai saat itu tiba, saya memilih diam. Bukan lemah. Bukan kalah.

Tapi karena ini satu-satunya cara agar saya tetap waras menghadapi kenyataan yang terlalu lama berjalan sendirian.


#justINFO

Comments

Popular posts from this blog

Prancis

Judulnya Auto Delete

Portuguese