Antara Inggris dan Belanda

 Indonesia pernah dijajah oleh segelintir bangsat imperialis yang haus kekuasaan dan sumber daya. Mulai dari Portugal yang datang pertama kali pada abad ke-16, merebut Maluku untuk rempah-rempah, tapi pengaruhnya terbatas. Spanyol ikut-ikutan, juga di Maluku, tapi bentrok dengan Portugal dan akhirnya mundur setelah Perjanjian Tordesillas. Inggris (Great Britain) sempat merebut sementara pada 1811-1816 selama Perang Napoleon, menguasai Jawa di bawah Raffles yang bikin reformasi tanah. Jepang datang brutal di Perang Dunia II, 1942-1945, janji kemerdekaan tapi sebenarnya eksploitasi tenaga kerja dan romusha yang bunuh jutaan. Belanda (Netherlands) adalah penjajah utama, melalui VOC sejak abad 17 hingga 1949, dengan kultuurstelsel yang nyedot darah rakyat untuk keuntungan Eropa. Yang lain? Prancis pernah coba invasi singkat di abad 18 tapi gagal total, dan Jerman punya pengaruh ekonomi tapi bukan penjajahan langsung. Itu saja, sisanya cuma pengaruh minor dari pedagang Arab atau Cina.


Sekarang, bayangkan kalau Indonesia masih dijajah salah satu dari mereka di 2026 ini, di mana negeri kita dikuasai koruptor busuk dan oligarki rakus yang bikin rakyat miskin terbius agama palsu dan musik sampah untuk lupa kemiskinan. Kondisi sekarang? Ekonomi ambruk karena korupsi merajalela, infrastruktur bobrok, pendidikan ala kadarnya, dan rakyat dicekoki janji surga sambil dengerin dangdut murahan. Kalau masih dijajah Belanda, mungkin kita lebih maju: mereka bangun rel kereta, irigasi, dan sistem hukum yang ketat. Bayangkan Jakarta seperti Amsterdam, dengan disiplin ekonomi yang bikin GDP per kapita melonjak, bukan seperti sekarang yang dikuasai cukong korup. Belanda eksploitatif, tapi mereka efisien—bukan seperti oligarki kita yang cuma nyolong duit rakyat.


Inggris juga potensial: Raffles dulu reformasi agraria, pendidikan, dan administrasi. Kalau masih di bawah Britania, Indonesia bisa seperti Singapura atau Malaysia—ekonomi stabil, korupsi minim karena sistem common law yang tegas. Rakyat nggak bakal miskin terbius agama, tapi dididik jadi warga produktif. Jepang? Neraka total—mereka brutal, tapi disiplin kerja tinggi. Kalau masih dijajah, mungkin kita seperti Korea Selatan sekarang: industri maju, teknologi canggih, tapi dengan harga kebebasan yang hilang dan represi militer. Tapi Jepang dulu bunuh jutaan, jadi perkembangannya bakal dibayar darah.


Portugal dan Spanyol? Mereka kuno dan korup sendiri—pengaruhnya terbatas di timur, mungkin Maluku jadi seperti Timor Leste yang miskin. Kalau masih dijajah mereka, kita stuck di era feodal, lebih buruk dari sekarang. Kesimpulan tegas: Belanda atau Inggris paling mungkin bikin perkembangan lebih baik—mereka bawa modernisasi meski eksploitatif. Jepang kedua, tapi mahal harganya. Sisanya? Lebih buruk. Tapi realitanya, kemerdekaan kita dirusak koruptor, bukan penjajah luar. Bangunlah, jangan biarkan oligarki terus nyedot!


Serpong 

17 February 2026

Jam 11:17 wib


#justINFO

#tanyaAI

Comments

Popular posts from this blog

Prancis

Judulnya Auto Delete

Portuguese